0852 5852 2878 admin@pakettourmalang.id

Museum Brawijaya

museum brawijaya

Museum Brawijaya yang terletak di pusat kota Malang merupakan salah satu museum sejarah yang menjadi bukti perjuangan bangsa Indonesia. Museum tersebut memiliki beragam koleksi benda-benda bersejarah yang berasal dari era agresi militer belanda dan juga sejumlah pemberontakan yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan. Berwisata ke tempat tersebut sangat disarankan bagi pengunjung yang menyukai sejarah.

Lokasi Museum Perjuangan Brawijaya

Museum Brawijaya beralamat di jalan Ijen no. 25 A, Gading Kasri, Klojen, Malang, Jawa Timur. Lokasi wisata sejarah tersebut berada di pusat kota Malang, sehingga wisatawan yang baru akan mampir ke sana tidak perlu kesusahan dalam mencari tempat tersebut. Pasalnya, jalan Ijen yang merupakan daerah tempat museum berada adalah lokasi CFD tiap minggunya.

Harga Tiket Masuk

Berwisata sejarah di museum perjuangan kota malang sangat menyenangkan. Harga tiket masuk untuk bisa menikmati wisata sejarah di museum perjuangan tersebut juga sangat terjangkau, yakni Rp 3000,-/ orang. Jumlah nominal yang harus dibayarkan untuk membeli satu tiket per orangnya tidak mengalami perubahan, baik pada saat hari biasa maupun hari libur.

Jam Operasional

Museum buka setiap hari pada pukul 08.00 WIB pagi hari, dan tutup pada pukul 14.30 WIB siang hari. Sementara pada waktu-waktu tertentu museum tersebut dapat tutup lebih awal, seperti pada hari jumat yakni tutup pada pukul 11.30 WIB. Selain jumat, hari sabtu dan minggu museum juga tutup lebih awal yakni pada pukul 13.00 WIB.

Tempat-Tempat Yang Bisa Dikunjungi Selama Berada Di Dalam Museum

Baca artikel wisata lainnya : Air Terjun Coban Rondo

Bangunan museum yang berdiri di tanah seluas 10.500 m persegi tersebut memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi wisatawan. Setiap tempat memiliki cerita masing-masing dan tentunya terdapat keunikannya sendiri. Berikut 7 tempat yang bisa dikunjungi selama berada di dalam museum Perjuangan Brawijaya :

1. Agne Yastra Loka

Agne Yastra Loka merupakan taman sekaligus jalan utama menuju pintu masuk museum Brawijaya. Di taman tersebut terpajang beberapa koleksi kendaraan dan senjata perang bekas pertempuran pasca kemerdekaan Indonesia. Koleksi barang-barang peninggalan perang tersebut di antaranya; senjata anti udara, tank Jepang, Meriam 3,7 inch, dan tank amfibi.

Benda-benda tersebut merupakan peralatan milik Belanda dan Jepang yang berhasil dikuasai oleh pejuang Indonesia selama pendudukan kedua negara tersebut. Selain koleksi barang militer, di depan pintu masuk museum juga terdapat patung wajah jendral Sudirman lengkap dengan keterangan yang berada tepat di bawah patung wajah jendral.

2. Lobi Utama Museum

Museum perjuangan Brawijaya memiliki lobi yang tidak biasa seperti lobi-lobi yang ada di gedung lainnya. Di lobi tersebut terdapat lambang-lambang kodam TNI yang ada di Indonesia saat ini. Selain itu terdapat pula relief yang menggambarkan kekuasaan Majapahit di bagian selatan, dan relief daerah misi yang dulunya pernah dijalankan TNI di bagian utara.

3. Ruang Perjuangan 1945-1949

Ruang perjuangan 1945-1949 yang ada di museum Brawijaya merupakan tempat penyimpanan barang-barang peninggalan yang berasal dari tahun 1945 hingga 1949. Disana terdapat beberapa koleksi pakaian tentara Indonesia masa pendudukan Jepang serta peralatan yang biasa dipakai prajurit Indonesia pada masa itu. Barang-barang tersebut seperti termos tempurung kelapa, radio, dan lainnya.

Di tempat tersebut terdapat mobil De Soto USA yang menjadi salah satu barang peninggalan yang sangat populer bagi pecinta otomotif. Selain itu di sana juga terdapat perabotan asli yang digunakan pada saat pemerintah Indonesia melakukan perjanjian gencatan senjata dengan Belanda sewaktu agresi militer di Jawa Timur.

4. Ruang Perjuangan 1950-1976

Ruang perjuangan 1950-1976 didominasi oleh barang-barang peninggalan pemberontakan yang pernah dialami Indonesia sewaktu baru berdiri. Di sana terdapat meriam PRRI/Permesta, peralatan perang yang masih tradisional milik Irian Jaya, senjata rampasan operasi Trisula, peralatan perang operasi Trikora, dan banyak lagi. Di ruangan tersebut juga terdapat teks Saptamarga dan sumpah prajurit di atas batu marmer.

5. Gerbong Maut

Salah satu benda bersejarah paling ikonik yang dimiliki oleh museum Brawijaya adalah gerbong maut milik Belanda. Kini salah satu dari tiga gerbong maut tersebut terpajang di halaman tengah museum dan sering dijadikan sebagai tempat mengabadikan gambar. Sebab gerbong tersebut berukuran mini dan unik serta memiliki gaya eropa yang masih cukup kental.

Ada cerita pilu dibalik penamaan gerbong maut. Dahulu semasa agresi militer Belanda gerbong maut dijadikan sebagai tempat untuk mengirim 100 pejuang Indonesia yang akan dibawa dari Bondowoso menuju Surabaya. Sebenarnya gerbong tersebut merupakan gerbong pengangkut barang, sehingga tidak memiliki ventilasi udara. Akibat dari kondisi tersebut, 46 orang pejuang Indonesia tewas.

6. Perahu Segigir

Tidak jauh dari gerbong maut terdapat sebuah perahu yang diberi nama perahu Segigir. Perahu tersebut merupakan bukti perjuangan Indonesia yang di pimpin oleh Letkol Chandra Hasan. Yang mana pada saat itu Letkol Chandra tengah berupaya memindahkan pasukannya dari pulau Madura menuju Probolinggo. Namun sayang, hampir sebagian besar perahu karam akibat serangan udara Belanda.

7. Perpustakaan

Selain barang-barang peninggalan masa perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaan dan sesudahnya, museum Brawijaya juga menyediakan perpustakaan. Yang mana tempat tersebut menyimpan beragam koleksi buku, dokumen sejarah, serta beragam referensi mengenai perjuangan rakyat Indonesia membela tanah air. Tempat tersebut sangat cocok dijadikan sebagai rujukan dalam mengemas tugas-tugas yang berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum Brawijaya merupakan bukti nyata dan saksi perjuangan pemuda Indonesia untuk mempertahankan tanah airnya dengan darah dan air mata. Tentunya penting bagi generasi muda untuk bisa mengambil pelajaran dari setiap kisah perjuangan pahlawan agar menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap tanah airnya.

Leave a Reply